Gus Anam ‘Sowan’ Imam Bukhori dan Imam Bahaudin Annaqsyabandi

Gus Anam ‘Sowan’ Imam Bukhori dan Imam Bahaudin Annaqsyabandi

Pengasuh Ponpes At Taujieh Al Islamy 2 Andalausia, KH Zuhrul Anam Hisyam bersama Syakh Moh Rojab Deeb dan rmbongan perwakilan dunia saat ziarah di Makam Imam Al Bukhori

 

– International Naqsyabandi Ijtima 2018

GUS Anam bertekad akan menularkan pengalaman spiritualnya bagi segenap santri di At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia yang dia asuh. “Setiap santri andalusia harus memiliki pemahaman utuh tentang Islam. Termasuk memahami, Islam harus dihadirkan dalam wilayah kulturan dan structural (pemerintah),” tutur menantu KH Maimoen Zubair tersebut.

Kepada santri, kata Gus Anam, juga semakin yakin akan pentingnya penguasaan Bahasa untuk pergaulan internasional. “Santri Andalusia harus mampu membangun dua  potensi, akal dan ruh, Intelektual dan sepiritual. Serta  pentingnya keahlian komunikasi, penguasaan bahasa Arab dan Inggris,” kata Gus Anam yang didampingi Ny Hj Rodliyah Ghorro MZ.

Pengasuh At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia, KH Zuhrul Anam Hisyam semakin intens dalam jaringan ulama Internasional. ‘Kyai Muda’ yang karib disapa Gus Anam tersebut diundang dalam forum Internasional Naqsyabandi Ijtima’ 2018 di Uzbekistan. Acara tersebut diikuti guru thoriqoh Naqsyabandi dari berbagai belahan dunia.

“Saya diundang oleh Syaikh Muhamad Rojab Deeb, mursyid thoriqoh naqsyabandi dengan jutaan pengikut di dunia. Ijtima’ Naqsyabandi sendiri diinisiasi Syeikh Abdul Karim dari Malaysia selama 7-14 Nopember,” kata Gus Anam dari Uzbekistan.

Syaikh Muhamad Rojab Deeb merupakan Ulama dari Syria. Putra dari Syaikh Rojab Deeb yang memiliki hubungan istimewa dengan sejumlah ulama Indonesia. Syaikh Muhamad Rojab Deeb sendiri sudah tiga kali berkunjung ke Ponpes yang diasuh Gus Anam di Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas.

“Ijtima’ ini semakin mempererat persudaraan antar ikhwan (pengamal thoriqoh naqsyabandi) dunia, dan persaudaran muslim secara umum.  Secara spiritual kami juga melihat langsung peninggalan peradaban Islam yang sudah mwariskan khazanah kelimuan Islam begitu mulia,” sambung Gus Anam lagi.

Di Uzbekistan, Gus Anam dan rombongan ulama dunia juga ‘sowan’ (ziarah) ke makam ulama besar pada zaman keemasan Islam. Sebut saja, Imam Al Bukhori di kota Bukhara, Imam At Tirmidzi, Imam Abu Mansur Almaaturidi (Imam Ahlisunnah) hingga Imam Bahauddin Annaqsyabandi. Yang terakhir, seperti diketahui merupakan  Pendiri thoriqoh naqsyabandi.  Masih ada  lagi Imam Abu Ishaq Assyeirozi ulama ahli fiqih syafii dan masih banyak yang lainnya.

“Melakukan praktik robithoh ruuhiyyah dg guru guru thoriqoh secara langsung di depan makam ulama itu begitu berkesan. Kami sungguh takjub, dengan warisan budaya yang sangat tinggi. Selain intelektual (khazanah keilmuan) juga seni bangunan yang sangat indah,” kata Gus Anam yang mrupakan murid Sayyid ‘Alawi Al Maliky Makkah tersebut.

Ikhwan yang hadir merupakan guru-guru thoriqoh dari China, Indonesia, Inggris, Malaysia, Pakistan, India, Bangladesh, Amerika, Perancis, Belgia, Luxemberg, Jerman, Suriah, Mesir, Australia. Dalam salah satu sesi, dipertontonkan juga bela diri Sufi yang ditampilkan pengikut naqsyabandi dari Cina.

Sementara Syaikh Moh Rojab Deeb berpesan, agar kita selalu mengutamakan ukhuwwah, menjaga thiriqoh selalu dalam petunjuk Al Quran dan assunnah. Serta harus mementingkan ilmu. Sebelumnya, Gus Anam juga melakukan rihlah ilmiah selama 10 hari ke Mesir. Termasuk berkunjung ke Al Azhar Universty bersama Prof Dr Syaikh Fathi Abdurrahman Hijazi. (*)